Story About Warren Buffet His Son !!

Howard Graham Buffet, (anak dari Warren Buffet, orang terkaya ketiga di dunia saat ini) datang kepada ayahnya, sesaat setelah lulus High School, dia lulus sebagai lulusan tebaik di High Schoolnya. Howard datang kepada ayahnya dan berkata,  “ Dad… , suatu hari nanti saya ingin menjadi CEO dari Berkshire Hathaway dan menjadi orang terkaya di dunia.”

Mendengar perkataan seperti itu dari anaknya, Buffet sangat senang dan dia tidak sabar untuk melihat seberapa besar usaha yang akan ditunjukan anaknya untuk mendapatkan posisi itu, dia tidak mau posisi yang diinginkannya itu malah membuat dia menderita di kemudian hari. Mendengar itu Warren Buffet hanya menjawab, “ That’s good son, we’ll see !! “

Howard  akhirnya masuk ke Harvard Business School,  dia menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi, ketika dia berada di tahun ketiga kuliahnya dia bertemu dengan ayahnya, dan berkata hal yang sama, bahwa ia ingin menjadi pewaris dari perusahaan ayahnya dan menjadi orang terkaya di dunia.

Buffet semakin senang mendengar mimpi anaknya itu, baginya tidak ada hal yang lebih dia inginkan daripada melihat anaknya membawa perusahaan yang dia bangun menjadi perusahaan yang lebih besar lagi. Dia lalu menjawab anaknya, “ That’s great son, just do what you have to do now, and someday you will get there !! .”

Setelah lulus Howard kembali mengatakan yang sama, dan ayahnya kembali kembali berpesan… “ Now you’ve got what you need to prove yourself…  Show time son !!”

Mendengar hal itu anaknya cukup kecewa, karena setelah dia lulus, dia bukannya diberi jabatan oleh ayahnya tetapi malah disuruh membuktikan diri. Akhirnya dia memutuskan untuk memulai usahanya sendiri, membangun semuanya dari nol.

Melihat itu W, Buffet sangat bangga, karena anaknya tidak takut untuk memulai dari nol, dan merasa setelah dia cukup kuat dan mengerti dunia business dia akan mengangkatnya menjadi salah satu perwakilannya di perusahaan. Warren Buffet percaya anaknya punya potensi untuk itu semua.

Beberapa tahun kemudian bisnis Howard jatuh kedalam masalah, dan akhirnya bangkrut dan terlilit hutang, namun walaupun demikian ayahnya sangat bangga melihat perjuangan anaknya untuk menyelamatkan perusahaan itu sampai titik darah penghabisan, dia yakin anaknya akan belajar dari kesalahan itu dan membuatnya lebih baik di kemudian hari.

Mengetahui kebangkrutan anaknya, W.Buffet menawarkan bantuan dana kepada anaknya, untuk dia memulai usaha baru dan melunasi hutang-hutangnya, mendengar hal itu anaknya menjadi kecewa kepada ayahnya yang tidak juga memberikan jabatan yang dia impikan, malah menyuruhnya mendirikan usaha baru. Namun mau tidak mau dia harus menerima tawaran anaknya karena dia terlilit oleh hutang.

Dengan perasaan terbuang, Howard tetap berjuang mendirikan usaha barunya, belajar dari kesalahan usahanya berkembang namun krisis ekonomi yang terjadi akhirnya kembali menghancurkan perusahaannya.

Frustasi Howard kembali menemui ayahnya, dia berkata, “Dad.. aku telah bangkrut 2 kali, mimpiku sekarang hanya menjadi vice president dari Berkshire Hathaway yang ada di Eropa, mau kah ayah mengabulkannya.”

Mendengar itu W. Buffet menjadi kecewa, mimpi anaknya telah berubah, masalah ternyata membuat mimpi Howard menjadi “turun”, dia sangat kecewa karena ternyata keinginan anaknya untuk menjadi pewarisnya tidak cukup besar, itu artinya dia tidak cukup kuat untuk menduduki jabatan yang didudukinya sekarang.

Namun karena W.Buffet mengasihi anaknya, akhirnya dia berkata,

“ Jika itu yang kau inginkan, saya akan memberikan modal kepadamu sekali lagi, bangunlah usahamu sendiri di London, sekarang waktu yang tepat untuk menunjukan bahwa memang itulah yang kamu inginkan, dan mempelajari kehidupan di eropa.”

Howard semakin sakit hati dengan ayahnya, dia  pergi ke London untuk menghindari ayahnya, usaha yang dibangunnya biasa-biasa saja, dia bahkan berkali-kali merubah jenis usaha dari perusahaannya, melihat itu W. Buffet kecewa dan akhirnya memanggil Howard meminta penjelasan darinya.

Howard  kembali meminta kepada ayahnya, dia meminta untuk kembali ke Amerika dan diangkat menjadi  kepala dari salah satu cabang Berkshire Hathaway di salah satu kota di Amerika. Mendengar hal itu ayahnya semakin kecewa, sebagai anak dari salah satu orang terkaya di dunia Howard ternyata hanya bermimpi untuk menjadi salah satu kepala cabang dari perusahaannya.

W. Buffet semakin frustasi dengan sikap anaknya, akhirnya dia menyuruh anaknya untuk kembali ke kampus, dan mengambil gelar yang lebih tinggi, dia merasa anaknya “gagal” belajar dari kehidupan, dan berharap dia dapat belajar lebih baik di kampus.

Kembali ke kampus Howard sudah kehilangan semangatnya, dia merasa ayahnya memang tidak percaya kepadanya dan tidak mau memberikan jabatan apa-apa.  Prestasi kuliah menjadi biasa-biasa saja, setelah ia selesai, dia menunggu tawaran pekerjaan dari ayahnya, namun karena tawaran itu tak kunjung datang, dan dia malu untuk melamar di perusahaan lain akhirnya dia memutuskan untuk kembali bertemu dengan ayahnya, kali ini dia berkata, “ Dad… terimalah saya menjadi pegawai anda, apa pun pekerjaannya saya akan terima, sekarang saya sadar kalau memang saya tidak bisa sebaik anda.”

Hancurlah hati W.Buffet karena anak dan calon pewaris perusahaannya sudah menyerah dengan tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan, mimipinya ketika muda dulu sudah hilang, dan sekarang malah mengemis kepada ayahnya sediri.

Well ini bukanlah cerita nyata, melainkan hanya sebuah perumpamaan…

Nama W. Buffet dan H.G. Buffet hanya “dipinjam” untuk membantu memahami ironi yang sering terjadi dalam kehidupan kita, kita sering kali kehilangan mimpi kita dengan berjalannya waktu, masalah demi masalah menurunkan visi , harapan, usaha bahkan doa kita.

Kegagalan sering kali membuat kita menyerah, dan takut untuk mencoba lagi, sehingga kita meninggalkan mimpi kita dan merasa Tuhan tidak mengasihi kita.

Padahal kita tahu, bahwa kita memiliki Bapa yang berkuasa, Bapa yang menginginkan anaknya menjadi pemimpin dari pergerakan-Nya, Bapa yang sangat ingin memberkati anak-anakNya, dan mengabulkan mimpi-mimpinya. Dia juga Bapa yang melihat setiap usaha kita dan berduka melihat kegagalan kita.

Tetapi sama seperti W. Buffet yang tidak mungkin mengangkat anaknya yang baru lulus kuliah untuk menjadi CEO, Tuhan pun tidak mungkin mengangkat kita untuk mencapai mimpi kita sebelum kita memiliki kekuatan untuk menjalaninya, karena hal itu tidak akan menjadi kebahagiaan bagi kita melainkan hanya akan mengahancurkan kita.

Bapa kita di surga juga akan berduka jika kita “menyerah” dan “men-down-grade” mimpi dan doa kita kepadaNya, ketika anda berdoa mintalah dengan sungguh-sungguh dan beriman, tunjukan bahwa anda benar-benar menginginkannya dan pantas mendapatkannya. Dia adalah Bapa yang tidak sabar untuk segera memberkati anda.

Never give up on your dream… Your Dad is waiting for you…

Inspired by Arlene Johan @ ECC Morning Service

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s