If You Believe in God, be a Risk Taker

Selama ini banyak orang yang menganggap bahwa Risk Taker adalah sifat yang buruk . Risk taker sering dikaitkan dengan gambler, tidak/belum dewasa, atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Banyak yang beranggapan dengan berjalannya waktu, maka seseorang yang baik akan mininggalkan kebiasannya mengambil resiko dan menjadi orang yang “bertanggung jawab”.

Sebenarnya jika kita melihat kembali arti dan pemakaian kata dari risk atau resiko, maka kita akan menyadari bahwa Risk Taker bukanlah sesuatu yang buruk.

Berikut ini adalah beberapa contoh pemakaian kata resiko yang sering kita temui sehari-hari: Resiko Investasi, resiko membuat bisnis sendiri, resiko dalam membongkar tidak pidana korupsi, dll.

Pernahkah anda mendengar kata resiko digunakan sepeti ini : Resiko bunuh diri, resiko memakai narkoba, resiko menganiaya keluarga, dll. Walaupun mungkin ada yang pernah mendengarnya, tetapi saya rasa kita semua setuju, bahwa itu adalah penggunaan kata resiko yang salah.

Resiko dapat didefinisikan sebagai,  “Akibat negatif yang mungkin kita hadapi, dalam proses mendapatkan sesuatu yang positif.” 

Kata risk atau resiko hanya digunakan, jika ada tujuan positif yang ingin kita raih, oleh karena itu kita tidak pernah mendengar orang berkata resiko membunuh orang.  Karena resiko berbeda dengan hukuman.

BELIEVERS SHOULD BE A RISK TAKER

Mungkin kita banyak melihat orang percaya yang memilih untuk menjalani hidup “tanpa resiko” mereka memiliih untuk diam di pojoknya sendiri dan menjauhkan diri dari resiko-resiko yang ada di dunia ini. Kehidupan orang seperti itu umumnya sudah bisa ditebak, kehidupannya jauh dari maksimal, pengetahuan dan kesejahteraannya juga umumnya biasa-biasa saja.

Orang demikian biasanya terlupkan oleh dunia, mungkin orang tahu dia taat beragama, tetapi itu saja. Dia tidak memiliki image lain di mata orang-orang yang melihatnya. Tanpa bermaksud merendahkan siapa pun tetapi  menurut pendapat saya, orang yang takut mengambil resiko adalah orang yang kurang mengenal Tuhan-nya dengan baik.

Kebenaran Firman Tuhan mengatakan…

Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. #Psalm 37:23-24

Ada banyak hal yang bisa kita ambil dari kebenaran Firman Tuhan di atas:

 “Apabila ia jatuh” , hal ini menegaskan bahwa sama seperti orang lain, orang yang beriman dan taat akan Tuhan juga bisa mengalami kejatuhan dalam hidupnya, artinya setiap orang percaya juga harus menempuh berbagai resiko kegagalan dalam hidupnya.

Dalam setiap hal baik yang ingin kita capai kita akan menghadapi resiko yang sama dengan semua orang lainnya. Perusahaan yang anda bangun bisa saja bangkrut, anda bisa saja dipecat dari pekerjaan anda, nilai investasi anda bisa saja jatuh, dll.

Orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan pun dapat mengalami resiko yang sama dengan mereka yang tidak pernah mengenal Tuhan dalam hidupnya.

Lalu apa bedanya ?
Kedua point lain dari Firman Tuhan di atas adalah perbedaan antara orang yang hidup berkenan kepada Allah dan orang yang tidak.

“Tuhan menetapkan langkah-langkah kita” , semua langkah yang dirancang oleh Tuhan adalah rancangan keberhasilan dan kebahagiaan, Tuhan menjanjikan itu kepada semua orang yang hidup berkenan kepada-Nya,  itu tidak berarti dalam perjalanan menuju rencana yang indah tersebut kita tidak mungkin mengalami kegagalan. Tetapi separah apa pun kegagalan yang kita alami, pada akhirnya rancangan Tuhan selalu berujung pada keberhasilan dan kebahagiaan.

 “Tuhan menopang tangan kita, jika kita jatuh tidak akan sampai tergeletak.” ,  Tuhan menopang tangan kita, itu artinya kegagalan seperti apa pun yang kita hadapi itu tidak akan menghancurkan kita. Kita selalu bisa selalu bangkit dan kembali berjalan karena Allah yang tidak pernah jatuh menopang tangan kita.
WE’RE EQUIPPED TO TAKE A RISK

Beberapa point di atas adalah alasan yang kuat mengapa seharusnya orang percaya menjadi seorang risk taker, kembali lagi mengambil resiko bukanlah sesuatu hal yang buruk, karena resiko hanya akan kita ambil jika kita mengharapkan hal yang baik.

Sebagai anak Tuhan kita memiliki keunggulan yang begitu besar dibandingkan dengan orang lain. Mengapa ?  Karena kita tidak akan pernah jatuh sampai tergeletak, masalah dan resiko yang ada tidak akan membuat kita tamat, itulah janji Tuhan, dan itulah kebenarannya dan itulah yang akan terjadi.

Kita memiliki asuransi dari Bapa di surga, bahwa dalam setiap masalah, dalam setiap kegagalan, kita tidak akan pernah habis. Bukan hanya itu Tuhan juga berjanji bahwa Ia akan menetapkan jalan kita, artinya selain asuransi kita juga memiliki penasihat, yaitu Allah yang maha tahu.

Dia akan selalu mengingatkan kita jika kita menempuh jalan yang salah, jalan yang tidak akan membawa kita kedalam kemenangan yang dijanjikan-Nya.

IF WE ARE WILLING TO TAKE A RISK

Bayangkan jika semua orang percaya memahami hal ini dalam hidupnya, bayangkan jika semua anak Tuhan berani meninggalkan comfort zone mereka dan keluar untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan mengambil resiko.

Anak-anak Tuhan pasti akan menjadi pemimpin-pemimpin terbaik, penemu-penemu terbaik dan pangusaha-pengusaha tersukses.

Kita akan menguasai market place, karena hidup kita dijamin oleh pemilik bumi ini dan jalan kita dibimbing oleh pencipta bumi ini. Untuk menanggung resiko yang sama dengan orang-orang lain, anak-anak Tuhan memiliki asuransi dan nasihat dari Bapa di surga.

Anak-anak Tuhan akan selalu mencoba hal-hal yang baru, menemukan cara baru, dan hidup dengan menembus limit-limit yang dunia ciptakan. Anak Tuhan akan menjadi orang-orang pemberani, mereka yang berani melakukan apa yang orang lain tidak berani lakukan.

Orang percaya seharusnya tidak pernah takut gagal, dan tidak pernah berhenti mencoba, kita harus terus melatih iman kita, membawa iman kita ke limit-limit yang belum pernah dicapai sebelumnya, dan menjadi saksi hidup terlaksananya janji Tuhan dalam kehidupan kita, taking a risk adalah salah satu cara yang baik untuk melatih iman kita.

Jika kita semua mau melakukan itu, dunia ini akan dipenuhi dengan kebaikan dan keberhasilan, karena ada orang-orang yang mau mengambil resiko untuk mewujudkan hal-hal tersebut.

Orang sukses bukanlah orang yang selalu berhasil dalam setiap hal yang dikerjakannya, melainkan orang yang tidak pernah berhenti mecoba ketika apa yang mereka lakukan gagal. Setiap orang percaya sudah memiliki jaminan dan modal untuk menjadi sukses, pertanyaannya maukah anda mengambil resiko untuk mewujudkannya.

Inspired by Nala Widya at ECC Morning Service

3 responses to “If You Believe in God, be a Risk Taker

  1. Hallo Ka Nala ini Yudi dari Els Bandung, wah akhirnya bisa dengar alias baca tuisan Ka Nala sebagai pengganti catatan kotbah🙂 sering sering ya Ka Nala
    Like this dech buat tulisan nya🙂 GBU and hope we can meet again in Bandung after i graduate. Need prayer from saudara seiman agar bisa lulus dan tidak malas malas an kuliah nya dan tetap semangat meskipun sambil kerja.Semoga Ka Nala bisa dukung Yudi dalam doa.Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s