Story About Didier & Salomon

Pada suatu hari di pedalaman Sierra Leone, hiduplah 2 orang sahabat yang bernama Didier dan Salomon, mereka berdua hidup sebagai budak yang dipaksa oleh para pemberontak bersenjata untuk bekerja di tambang berlian. Mereka terpaksa bekerja untuk para pemberontak tersebut karena jika tidak mereka akan dibunuh, mereka hanya diberi makan satu hari sekali, dan harus tidur di tengah hutan selama bertahun-tahun.

Salomon dan Didier adalah sahabat sejak kecil, mereka berdua merupakan orang yang rajin beribadah dan taat kepada Tuhannya. Setiap malam setelah bekerja mereka selalu berdoa supaya Tuhan melepaskan mereka dari penderitaan yang sedang mereka alami.

Pada suatu malam Tuhan berbicara kepada mereka melalui mimpi mereka masing-masing, dalam mimpinya Tuhan berkata,

“Doa kalian sudah Ku dengarkan, mulai besok kamu akan pergi dari tempat ini, Aku akan membawa ke tempat dimana tidak ada lagi perbudakan, tanah yang indah yang dipenuhi susu dan madu. Kamu tidak akan pernah lagi menderita kelaparan karena aku akan memenuhi semua kebutuhanmu seumur hidupmu”   # KEL 3 : 8

Singkat cerita keesokan harinya mereka berhasil lari dari pemukiman para pemberontak dan diselamatkan oleh pasukan PBB, beberapa saat kemudian mereka mendapat izin untuk tinggal di Amerika Serikat atas bantuan salah satu lembaga kemanusiaan.Di Amerika Didier dan Salomon hidup terpisah, karena mereka ditempatkan di kota yang berbeda. Di sana mereka melanjutkan hidup masing-masing, dan tidak pernah mengalami kelaparan lagi.

Sepuluh tahun setelah keluar dari Sierra Leone mereka berdua saling berkirim surat satu sama lain menceritakan, kisah kehidupan mereka masing-masing.

Surat dari Salomon
Kepada sahabatku Didier
SalomonSekarang aku tinggal di Miami, ketika sampai di sini aku sangat terkagum-kagum dengan kebaikan Tuhan, aku tidak pernah membayangkan ada tempat seperti ini di dunia, tempat dimana mobil-mobil berlalu-lalang, makanan yang berlimpah, orang-orang yang tidak menyakiti satu sama lain.

Awalnya aku bingung bagaimana bisa melanjutkan hidup di sini, karena uang yang awalnya diberikan padaku habis dalam 3 bulan pertama. Aku sempat mengalami masa-masa dimana aku kelaparan karena aku tidak bisa menemukan susu dan madu yang Tuhan janjikan.

Pada saat itu aku hampir tergoda untuk melakukan kejahatan demi mendapatkan makan, puji Tuhan aku tidak melakukan itu, aku memang tidur di pinggir jalan (untungnya aku sudah terbiasa tidur di hutan selama bertahun-tahun) jadi itu bukanlah masalah bagiku. Setiap hari aku datang dari satu gereja ke gereja lain, untuk meminta makan, luar biasanya setiap gereja di sini memberikan aku makanan secara gratis setiap kali aku memintanya.

Hidupku dipenuhi dengan kebahagiaan karena janji Tuhan benar-benar terjadi dalam diriku, aku tidak menjadi budak lagi, aku tidak perlu bekerja keras lagi, aku bisa tidur di taman sepanjang hari dan tidak ada lagi yang memukul atau mengancam akan membunuhku seperti dulu. Hidupku benar-benar merdeka di sini.

Selama 3 tahun aku terus berdoa kepada Tuhan karena aku rindu memiliki penghasilan tetap, dan memiliki tempat tinggal yang baik, akhirnya di Tahun ke 4 aku berhasil mendapatkan uang jaminan sosial dari pemerintah Amerika, sehingga aku mendapatkan $ 800 setiap bulan.

Sekarang aku tinggal di pemukiman untuk tuna wisma, di pinggiran kota Miami, di sini aku memiliki tempat tidur yang nyaman, kamar mandi, dan TV. Aku juga bekerja sebagai cleaning service, sehingga aku bisa memilki uang yang cukup untuk membeli makanan favoritku, memang bukan susu dan madu, tapi Pizza dan Beer.

Berkat Tuhan memang luar biasa, Dia tidak memberikan aku Susu dan Madu tapi dia membarikan aku Pizza dan Beer yang jauh lebih enak dari kedua makanan tersebut, sekarang ini aku sedang berdoa supaya Tuhan memberikan aku tempat tinggal pribadi. Aku percaya suatu hari Tuhan akan memberikannya juga.

Aku lampirkan fotoku yang terbaru, sekarang badanku gemuk karena sekarang aku merdeka, tidak perlu bekerja keras lagi seperti dulu, dan Tuhan terus memberkatiku dengan pizza dan beer.

Salam Rindu
Salomon

Surat balasan dari Didier
Kepada Sahabatku Salomon
DidierSekarang ini aku tinggal di New York
Pada awalnya aku mengalami hal yang sama denganmu, bahkan uangku sudah habis hanya dalam 2 bulan, mungkin karena biaya hidup di sini lebih mahal. Aku juga mempertanyakan kepada Tuhan karena aku tidak pernah mendapatkan Madu dan Susu yang Tuhan janjikan dalam mimpi kita.

Dalam kesusahanku aku terus berdoa dan memohon pengertian dariNya. Akhirnya aku menyadari bahwa SUSU adalah barang olahan, kita tidak akan pernah menemukan mata air yang mengalir susu. Susu tidak diberikan secara gratis oleh Tuhan, kita harus mengusahakannya.

Aku menyadari maksud Tuhan bahwa,
“SUSU MENGGAMBARKAN KETEKUTAN DAN PENGUASAAN DIRI.”

Untuk mendapatkan susu kita harus mau memelihara sapi, memberinya makan setiap hari. Menunggu sampai sapi tersebut tumbuh dewasa, baru kita bisa memperoleh susu. Selain kerja keras dan ketekunan, susu juga menggambarkan penguasaan diri, karena kita semua tahu betapa enaknya daging sapi, dan kita terkadang tergoda untuk memotong sapi tersebut, untuk mendapat kenikmatan sesaat walaupun pada akhirnya membawa kita dalam kesusahan hidup.

Aku sadar bahwa hidup kita pun tidak mungkin berkelimpahan jika kita tidak memiliki penguasaan diri dan segera memotong sapi kita, ketika kita menginginkan sesuatu.

Dibutuhkan penguasaan diri untuk menunggu pekerjaan kita menghasilkan sesuatu dan juga penguasaan diri untuk menunggu pekerjaan tersebut bertumbuh dan menghasilkan lebih banyak lagi, kita tidak bisa hidup berkelimpahan jika kita selalu “memotong” apa yang kita miliki, tanpa memikirkan masa depan kita.

“MADU MENGGAMBARKAN HIKMAT DAN KECERDASAN”
Seperti kita ketahui, untuk mendapatkan madu kita tidak mungkin menggunakan kekuatan fisik atau kerja keras, dibutuhkan kecerdasan untuk bisa mengusir ribuan lebah dari dalam kandangnya. Kita harus membakar kayu dan daun kering di bawah kandang lebah, sehingga asapnya mengusir semua lebah yang ada di situ, baru ketika lebahnya pergi madunya bisa kita ambil.

Menyadari hal tersebut aku terus bekerja keras di sini, sama beratnya dengan waktu kita di Sierra Leone dulu, bedanya di sini tidak ada yang memaksaku untuk bekerja, aku harus memaksa diriku sendiri, harus bisa menguasai diri dan mengalahkan kemalasanku.

Awalnya aku bekerja sebagai kuli bangunan aku terkejut dengan betapa besarnya upah yang didapat kuli bangunan di sini, aku dibayar $ 15 /jam, sementara aku sudah terbiasa bekerja 10 jam sehari – 7 hari seminggu, tanpa dibayar sepeserpun. Pengalamanku di Sierra Leone membuatku tahan untuk bekerja keras dan berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang cukup besar dalam waktu singkat. Di awal tahun kedua aku sudah bisa menyicil rumah yang aku tinggali sekarang, dari hasil kerjaku.

Selain bekerja keras aku juga tahu bahwa aku membutuhkan hikmat, sehingga sepulang kerja aku selalu mampir ke perpustakaan untuk membaca tentang ilmu arsitekstur dan sipil. Memang terkadang aku tertidur di sana, tetapi seperti kau bilang kita pernah tidur di hutan, tidur di meja perpustakaan ber-AC adalah hal yang menyenagkan bagi kita.

Pada tahun kelima setelah lama berdoa aku memberanikan diri untuk menjadi kontraktor kecil-kecilan dari uang tabunganku selama ini, puji Tuhan usahaku diberkati dan sekarang aku memiliki 10 pegawai yang bekerja untuk ku. Aku memiliki Rumah dan Mobil.

Tahun lalu aku mengirim $ 10.000 untuk para pengungsi di Sierra Leone, saat ini aku sedang berusaha mendapatkan izin untuk bisa membawa beberapa teman kita disana untuk bisa tinggal bersamaku di sini.
Janji Tuhan saat itu benar-benar terlaksana, Tuhan benar-benar menyediakan tanah yang indah yang penuh dengan susu dan madu.

Aku juga melampirkan fotoku yang terbaru.
Salam Rindu
Didier

Didier dan Salomon sebenarnya memiliki masa lalu yang sama, masa dimana mereka mengalami berbagai macam penderitaan dalam kehidupan mereka, masa dimana mereka menjadi budak dan dipaksa bekerja, masa dimana mereka hidup hanya berdasarkan belas kasihan majikannya.

Namun ketika mereka diselamatkan oleh Tuhan, hidup mereka berubah, mereka bukan tidak lagi menjadi budak, mereka menjadi orang merdeka.

Bedanya Salomon tetap memiliki mentalitas budak dalam dirinya, hidupnya hanya menunggu kebaikan Tuhan “turun dari langit”, dan tidak mengusahakannya. Salomon hanya bisa bekerja, jika dia tidak dipaksa untuk bekerja, kehidupan meredeka malah membuatnya bermalas-malasan, dan kerjanya hanya meminta kepada Tuhan. Dia berharap Susu dan Madu “turun dari langit”.

Sementara Didier, dia adalah orang yang biasa bekerja keras meskipun tidak ada yang memaksa dia untuk bekerja, dia adalah orang yang keras terhadap dirinya sendiri, setiap kepahitan dan kesedihan masa lalunya digunakan sebagai kekuatannya untuk menggapai masa depan yang diimpikan.

Dia juga adalah orang yang rajin merenungkan Firman Tuhan dan bukan hanya “menagih” janji Tuhan, terjadi dalam hidupnya.

“ Rejeki memang di tangan Tuhan, tetapi Tuhan juga adalah Tuhan yang adil yang akan memberi kita rejeki sesuai dengan usaha dan doa kita kepadaNya.”

Inspired by Nala Widya @ ECC Morning Service

One response to “Story About Didier & Salomon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s